Webinar Internasional JICA & LPEM FEB UI: Mengurai Tantangan Pembiayaan Infrastruktur Sosial Asia Menuju 2030
Jakarta, 9 Desember 2025 – Isu krusial mengenai kesenjangan infrastruktur sosial di Asia menjadi sorotan utama dalam webinar internasional bertajuk “Addressing Social Infrastructure Needs in Asia”. Acara ini terselenggara berkat kolaborasi strategis antara Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI. Forum yang digelar secara daring ini mempertemukan para ahli ekonomi dan pembangunan untuk membedah kebutuhan investasi mendesak di sektor sekolah, rumah sakit, dan perumahan publik—tiga pilar utama pembangunan manusia yang kian menghadapi tantangan pendanaan.

Teguh Dartanto Paparkan Estimasi Kebutuhan Asia
Salah satu sorotan utama dalam webinar ini adalah paparan dari Dr. Teguh Dartanto (Associate Professor FEB UI / LPEM FEB UI), yang juga merupakan mitra peneliti utama Transdisciplinary Institute. Dalam sesi presentasinya yang berjudul “Estimating Asia’s Social Infrastructure Needs”, Dr. Teguh memaparkan proyeksi berbasis data mengenai besaran kebutuhan infrastruktur sosial di kawasan Asia hingga tahun 2030. Analisis ini menjadi landasan penting untuk memahami seberapa besar celah pembiayaan (funding gap) yang harus ditutup oleh negara-negara Asia agar target pembangunan manusia tidak terhambat.
Perspektif Multilateral: ADB dan JICA
Diskusi semakin kaya dengan pandangan dari perspektif lembaga donor dan riset internasional. Dr. Koki Hirota (Former Visiting Fellow, JICA Ogata Research Institute) membuka wawasan mengenai kerangka proyek riset dan perspektif masa depan. Sesi diskusi panel yang dipandu oleh Haruko Kamei (Director General, JICA Ogata Research Institute) juga menghadirkan:
- Dr. Yi Jiang (Principal Economist, Asian Development Bank – ADB), yang membahas analisis ekonomi dan dampak pembangunan.
- Saeda Makimoto (Human Development Department, JICA).
- Fumiaki Ishizuka (Senior Research Fellow, JICA Ogata Research Institute).
Webinar ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur fisik saja tidak cukup; investasi pada infrastruktur sosial adalah kunci keberlanjutan ekonomi jangka panjang Asia. Kolaborasi lintas negara dan lembaga seperti ini diharapkan dapat melahirkan solusi pembiayaan inovatif untuk menutup kesenjangan yang ada.