Rapat Kuartal II, Penelitian Sustainable, dan Ilusi Membangun Institusi Baru
Dalam lanskap kebijakan riset Indonesia, persoalan terbesar sering bukan ketiadaan gagasan, melainkan kebiasaan mengira bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan menambah struktur baru. Di atas kertas, ini tampak tegas. Di lapangan, yang sering terjadi justru sebaliknya: beban melebar, koordinasi memburuk, dan dana yang semestinya mengalir ke riset habis terserap oleh format administratif baru. Karena itu, perdebatan tentang penelitian sustainable menjadi relevan bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi pembuat kebijakan yang masih percaya bahwa kelembagaan baru otomatis berarti kemajuan.
Artikel ini dibaca bersama konteks rapat kuartal II PT Teknodata yang sebelumnya diangkat oleh Sekolah Stata. Dari ruang rapat bisnis ke ruang kebijakan riset, benang merahnya sama: keberlanjutan tidak lahir dari simbol, melainkan dari ekosistem yang bekerja. Dan di tengah kecenderungan pemerintah RI yang kerap gemar memproduksi institusi pendidikan baru, kritik paling jujur barangkali sederhana saja: jangan menambah nama jika mesin lama belum dibereskan.
“Keberlanjutan riset tidak hanya sekadar membuat institusi baru saja.” — Irsyad Hawari, Direktur Eksekutif

Masalah Riset Indonesia Bukan Kekurangan Papan Nama
Bila kita melihat peta kebijakan riset nasional, masalah yang berulang sebenarnya sudah lama dikenali: pendanaan tidak stabil, agenda riset sering terputus oleh siklus anggaran, dan banyak peneliti dipaksa menyesuaikan topik dengan peluang hibah alih-alih dengan urgensi publik. Dalam kondisi seperti ini, institusi baru lebih sering menjadi respons politis ketimbang solusi substantif.
Universitas baru, badan baru, pusat baru, atau unit baru memang memberi kesan gerak. Tetapi gerak administratif tidak selalu identik dengan kemajuan ilmiah. Riset yang sehat memerlukan waktu, kontinuitas, dan ruang untuk salah lalu memperbaiki. Jika yang dibesarkan hanya struktur, sementara pembiayaan dan mutu tidak diperkuat, maka hasilnya hanya bertambah kompleks, bukan bertambah kuat.
Rapat Kuartal II sebagai Cermin Cara Kerja Ekosistem
Rapat kuartal II PT Teknodata menarik justru karena ia menunjukkan bahwa organisasi yang tahan uji tidak bertumpu pada retorika. Ia bergerak lewat pembacaan situasi, pengendalian biaya, dan kemampuan menjaga arah di tengah tekanan eksternal. Dalam konteks riset, logikanya sama. Lembaga yang ingin berkelanjutan harus punya penyangga yang nyata: hibah yang memadai, SDM yang kuat, dan tata kelola yang tidak membuat energi peneliti habis untuk mengurus prosedur.
Sekolah Stata dalam konteks grup Teknodata memperlihatkan sisi lain dari ketahanan organisasi: kejelasan misi. Ia tidak hidup dari slogan, melainkan dari kegunaan. Pelajaran ini penting bagi dunia riset. Ekosistem yang bertahan bukan ekosistem yang paling ramai dibicarakan, melainkan yang paling konsisten menghasilkan nilai.
Dana Hibah Adalah Oksigen, Bukan Hiasan
Jika penelitian sustainable ingin serius dibahas, maka dana hibah harus ditempatkan sebagai infrastruktur, bukan hadiah. Hibah adalah oksigen yang membuat proses penelitian bisa berlangsung dari perumusan masalah, pengumpulan data, analisis, publikasi, hingga diseminasi. Tanpa itu, riset sering berakhir sebagai niat baik yang tidak sempat menjadi pengetahuan.
Namun hibah pun tidak boleh diperlakukan sebagai obat tunggal. Ia perlu terhubung dengan pendanaan dasar institusional, mekanisme evaluasi yang jujur, dan jalur pengembangan peneliti yang jelas. Negara yang ingin hasil risetnya kuat harus berani membiayai proses yang panjang, bukan hanya luaran yang cepat.
Mengapa Tambah Institusi Tidak Selalu Menambah Daya Saing
Di atas kertas, menambah universitas atau lembaga riset terdengar progresif. Tetapi secara kebijakan, institusi baru memiliki biaya tersembunyi: rekrutmen, fasilitas, koordinasi, pembagian mandat, dan risiko tumpang tindih dengan lembaga lama. Jika desainnya lemah, institusi baru justru menciptakan kompetisi internal yang tidak produktif.
Karena itu, sindiran terhadap kebiasaan pemerintah RI membangun institusi pendidikan baru harus dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar humor politik. Pembangunan kelembagaan tidak boleh didorong oleh keinginan menampilkan simbol kebaruan. Yang dibutuhkan publik adalah mutu, relevansi, dan kesinambungan. Papan nama baru tanpa kapasitas yang jelas hanya memindahkan masalah ke alamat yang berbeda.
So What: Kenapa Ini Penting bagi Publik
So what? Mengapa urusan riset dan kelembagaan ini penting bagi publik yang mungkin tidak setiap hari membaca jurnal? Karena kualitas riset menentukan kualitas kebijakan. Negara yang lemah risetnya akan cenderung reaktif, lambat membaca perubahan, dan mudah salah arah saat menghadapi masalah kesehatan, pendidikan, pangan, iklim, atau digitalisasi.
Penelitian sustainable pada akhirnya bukan isu kampus semata. Ia adalah isu kapasitas negara. Jika riset tidak berkelanjutan, maka kebijakan publik akan terus mengandalkan intuisi dan proyek jangka pendek. Biaya dari kebijakan yang lemah jauh lebih mahal daripada biaya hibah yang layak.
Pelajaran untuk Pemerintah, Kampus, dan Lembaga Riset
Bagi pemerintah, prioritas mestinya bukan memperbanyak lembaga, melainkan memperkuat dukungan multi-tahun untuk riset strategis dan menyederhanakan birokrasi hibah. Bagi kampus, tantangannya adalah membangun budaya riset yang hidup, bukan hanya unit penelitian yang aktif di atas kertas. Bagi lembaga riset, tugasnya adalah menjaga agar pengetahuan yang dihasilkan benar-benar relevan dengan kebutuhan publik, bukan sekadar memenuhi indikator internal.
Transdisiplin penting dalam percakapan ini karena masalah riset tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan ekonomi politik, tata kelola, desain institusi, dan distribusi sumber daya. Itulah sebabnya pembacaan yang terlalu sempit akan gagal menangkap akar persoalan.
Penutup: Jangan Tambah Nama Jika Mesin Belum Diperbaiki
Kita sering terlalu cepat tergoda oleh perubahan yang terlihat. Padahal, kualitas kebijakan justru diuji oleh hal-hal yang tidak spektakuler: apakah dana benar-benar mengalir, apakah peneliti punya ruang bekerja, apakah hasil riset dipakai, dan apakah institusi mampu bertahan setelah sorotan pergi. Di titik inilah kutipan Irsyad Hawari menjadi tajam: keberlanjutan riset tidak selesai dengan membangun institusi baru.
Jika rapat kuartal II PT Teknodata mengajarkan disiplin membaca arah bisnis, maka diskusi tentang riset sustainable mengajarkan disiplin membaca arah kebijakan. Keduanya bertemu pada satu prinsip yang sama: organisasi yang matang tidak sibuk memoles simbol, tetapi merawat sistem. Dan dalam dunia pengetahuan, sistem itulah yang pada akhirnya menentukan siapa yang benar-benar maju dan siapa yang hanya terlihat bergerak.
FAQ
1. Apa inti dari gagasan penelitian sustainable?
Intinya adalah riset harus bisa bertahan melampaui satu proyek atau satu siklus hibah, dengan dukungan dana, tata kelola, dan kapasitas manusia yang berkesinambungan.
2. Mengapa institusi baru sering dianggap bukan solusi utama?
Karena institusi baru dapat menambah birokrasi dan tumpang tindih jika tidak disertai pendanaan, mandat, dan kapasitas yang jelas.
3. Apa hubungan artikel ini dengan konteks Sekolah Stata?
Konteks rapat kuartal II PT Teknodata dari artikel sebelumnya dipakai sebagai cermin untuk membaca pentingnya ekosistem, disiplin, dan keberlanjutan dalam riset.
4. Apa peran dana hibah dalam riset?
Dana hibah adalah oksigen yang memungkinkan riset berjalan, tetapi ia harus didukung sistem yang membuat penelitian tetap hidup setelah hibah selesai.
5. Apa pelajaran kebijakan paling penting dari tulisan ini?
Pelajaran terpentingnya adalah: fokuslah memperbaiki mesin kebijakan riset terlebih dahulu, bukan sekadar menambah nama institusi baru.