Dendy Herdianto Menjadi MC Webinar IFPA: Catatan Transdisiplin tentang Literasi Keuangan dan Paylater

Dendy Herdianto Menjadi MC Webinar IFPA: Catatan Transdisiplin tentang Literasi Keuangan dan Paylater

Pada 29 Juni 2026, Dendy Herdianto, Direktur Eksekutif Sekolah Stata, tampil sebagai MC dalam International Webinar IFPA bertema “Cure to Impulsive Shopping/Paylater in Financial Planners Perspective”. Bagi Transdisciplinary Institute, kehadiran ini menarik bukan hanya sebagai peran protokoler, tetapi sebagai contoh bagaimana komunikasi publik, literasi keuangan, dan penguatan kapasitas berbasis riset bisa bertemu dalam satu forum.

Foto dokumentasi webinar IFPA Literasi Keuangan bersama Dendy Herdianto
Foto dokumentasi webinar IFPA Literasi Keuangan bersama Dendy Herdianto.

Konteks Webinar: Literasi Keuangan di Tengah Perubahan Perilaku Konsumen

Topik impulsive shopping dan paylater tidak bisa lagi dibaca sebagai isu konsumsi harian semata. Di baliknya ada dinamika perilaku, tekanan sosial, kemudahan transaksi digital, dan keputusan finansial yang sering diambil terlalu cepat. Dari perspektif riset, tema ini relevan karena mempertemukan ekonomi perilaku, psikologi keputusan, dan desain kebijakan literasi keuangan.

Webinar IFPA membuka ruang untuk memahami bahwa pengelolaan uang bukan hanya soal kemampuan menghitung, tetapi juga soal membangun kontrol diri, disiplin, dan kesadaran atas konsekuensi jangka panjang. Dalam konteks inilah, forum tersebut menjadi penting bagi praktisi, akademisi, konsultan, dan masyarakat luas.

Mengapa Relevan bagi Transdisciplinary Institute

Transdisciplinary Institute memandang isu literasi keuangan sebagai wilayah pertemuan antara data, kebijakan, komunikasi, dan praktik sosial. Karena itu, kehadiran figur seperti Dendy Herdianto di forum IFPA memberi pesan yang jelas: penguatan kapasitas publik perlu dibawa ke ruang dialog lintas disiplin, bukan berhenti di ruang kelas atau laporan teknis.

Dari sudut pandang humas lembaga riset, keterlibatan dalam forum seperti ini juga menunjukkan bahwa lembaga pendidikan dan penelitian punya peran strategis sebagai jembatan pengetahuan. Kami tidak hanya mengamati isu, tetapi juga membantu menerjemahkan isu menjadi bahasa yang lebih dekat dengan publik, kebijakan, dan kebutuhan profesional.

Peran Dendy Herdianto sebagai Penghubung Percakapan

Menjadi MC dalam forum internasional bukan sekadar memandu acara. Ada ritme, ketepatan informasi, dan kemampuan menjaga alur diskusi agar gagasan yang kompleks tetap dapat diterima audiens. Dalam kerangka itu, Dendy Herdianto menjalankan peran sebagai penghubung percakapan: memastikan pesan dari para pembicara mengalir dengan jelas, terstruktur, dan profesional.

Bagi institusi yang bergerak di ranah konsultasi dan pengembangan kapasitas, kemampuan seperti ini penting. Ia memperlihatkan bahwa komunikasi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kompetensi inti dalam membangun kepercayaan publik dan memperluas dampak pengetahuan.

Implikasi untuk Konsultasi, Penelitian, dan Pengembangan SDM

Forum IFPA memberi sejumlah pelajaran yang relevan bagi agenda penelitian dan konsultasi. Pertama, topik finansial sehari-hari seperti paylater dan belanja impulsif perlu dipetakan sebagai masalah perilaku yang berdampak pada kesejahteraan rumah tangga. Kedua, intervensi literasi keuangan akan lebih efektif jika dirancang berbasis bukti, bukan sekadar slogan edukatif.

Ketiga, pengembangan sumber daya manusia tidak cukup berhenti pada sertifikat dan pelatihan formal. SDM yang kuat adalah SDM yang mampu membaca perubahan, berkomunikasi lintas audiens, dan membawa pengetahuan menjadi tindakan. Dalam arti itu, partisipasi Dendy Herdianto menjadi contoh kecil tetapi penting dari bagaimana kapasitas individu dapat berkontribusi pada ekosistem yang lebih luas.

Penutup

Transdisciplinary Institute melihat kegiatan ini sebagai pengingat bahwa isu literasi keuangan bukan hanya urusan angka, melainkan juga urusan kebiasaan, komunikasi, dan desain perubahan perilaku. Kehadiran Dendy Herdianto sebagai MC dalam webinar IFPA menegaskan bahwa peran lembaga pendidikan dan riset dapat hadir secara nyata dalam forum publik yang strategis.

Dengan pendekatan yang lebih transdisiplin, kita bisa membaca bahwa pendidikan, riset, dan konsultasi seharusnya saling menguatkan. Di situlah nilai tambahnya: pengetahuan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi bergerak menjadi kontribusi yang bisa dirasakan oleh publik.

Scroll to Top